Agus, seorang trainer yang bertugas untuk men-training karyawan baru di sebuah perusahaan selalu menekankan pentingnya senyum dalam melayani konsumen.

“Berikan senyum termanis walaupun hatimu serasa sedang diiris-iris,” ujar Agus sambil memperagakan cara senyum termanis yang sesuai standar pada suatu kesempatan training.

Sudah lebih dari dua puluh tahun Agus mengulang-ulang kalimat yang sama sampai ia sepertinya tidak perlu lagi berpikir sebelum mengeluarkan kata-kata tersebut seolah-olah kata-kata itu seperti mengalir secara otomatis dari mulutnya.

Selama lebih dari dua puluh tahun pula tak ada satu pun calon karyawan yang membantah kata-kata Agus sehingga selama lebih dari dua puluh tahun pulalah kantor tempat Agus menjadi trainer selalu dipenuhi senyum yang sesuai standar – kalau diibaratkan helm, senyum mereka itu punya cap standar nasionalnya. Para karyawan memberikan senyum termanis mereka walaupun seringkali senyum itu mereka pasang hanya karena peraturan kantor mengharuskan mereka untuk seperti itu.

***

Satu bulan lagi perusahaan tempat Agus bekerja akan mengadakan training untuk para karyawan baru dan seperti biasa Agus lah yang ditunjuk menjadi trainer. Melakoni peran yang sudah dijalani bertahun-tahun seharusnya bukanlah sesuatu yang harus dipusingkan oleh Agus, tapi saat ini untuk pertama kalinya ia benar-benar pusing karena harus melatih para karyawan baru tersebut.

Kepusingan Agus berawal pagi ini. Agus yang biasanya jadi contoh senyum sesuai standar di kantornya pagi ini tiba-tiba tidak bisa senyum – jangankan senyum yang sesuai standar, senyum yang tidak sesuai standar pun ia tak bisa.

Alhasil, dari pagi sampai saat ini Agus telah mencoba berbagai cara agar ia bisa kembali senyum. Mulai dari berdiri di depan cermin dan menarik-narik sudut bibirnya, memutar film

komedi, sampai menyuruh istrinya menarik sudut bibirnya – cara ini ia lakukan setelah ia yang sudah sangat kesal karena tetap tidak bisa senyum melihat sebuah iklan di televisi.

“Kita panggil dokter Aldo saja,” ujar istrinya setelah usahanya menarik sudut bibir Agus tidak membuahkan hasil.

“Dokter Aldo?”

“Iya, Kudengar ia seorang dokter lulusan luar negeri dan sudah berhasil menyembuhkan banyak pasien.”

Maka, malam itu juga dokter Aldo yang lulusan luar negeri itu dipanggil ke rumah Agus.

“Tolong dok, sejak dari tadi pagi saya tidak bisa senyum”

“Lho apa salahnya kalau tidak bisa senyum? Banyak kok orang yang tidak bisa senyum, coba anda lihat di kolong jembatan sana, di sana banyak orang yang mungkin sudah lupa bagaimana caranya senyum. Coba juga lihat anak-anak gelandangan yang berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagiaan1. Jangankan senyum, kebahagiaan saja mereka tidak punya!”

“jangan bercanda dok!”

“Siapa yang bercanda?” tanya dokter Aldo. “Coba anda lihat baliho-baliho di pinggir jalan. Apa anda pikir para calon wakil rakyat itu benar-benar tersenyum? Atau coba anda lihat di bank- bank atau di kantor-kantor. Apa anda pikir para teller, receptionist, customer service, dan para satpam itu benar-benar tersenyum? “

Agus hanya melongo mendengar dokter Aldo. “Ini dokter apa mahasiswa filsafat sih?” pikirnya.

“saya pernah kuliah filsafat,” tukas dokter Aldo seolah bisa mengetahui isi pikiran Agus. “para teller, receptionist, customer service, dan para satpam jarang sekali benar-benar tersenyum.

1 Seno Gumira Ajidarma, Sepotong Senja Untuk Pacarku dalam Pelajaran Mengarang: Cerpen Pilihan Kompas 1993, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 1993.

Mereka tersenyum hanya karena mereka harus begitu, tak ubahnya seperti robot. Buat apa tersenyum kalau begitu?”

“tapi itulah pekerjaan saya dok,” ujar Agus.

“Apa sih pekerjaan anda? Teller, receptionist, customer service, atau satpam?”

“Bukan dok, pekerjaan saya melatih para karyawan agar senyum sesuai standar. Mau mereka lagi senang, sedih, marah ataupun kesal saya tidak ambil pusing, yang penting mereka harus senyum dan harus sesuai standar. Sekarang bagaimana cara saya mau melatih mereka? Senyum saja saya tak bisa!”

Dokter Aldo manggut-manggut.

“Berarti anda terancam kehilangan pekerjaan dong?”

“Nah, itu dia dok”

“Ya sudah, sini saya periksa,” ucap dokter Aldo seraya menyuruh Agus terlentang di tempat tidur.

Dokter Aldo lalu menempelkan stetoskopnya di dada Agus.

“Buka mulutnya,” ujar dokter Aldo sambil mengarahkan senter kecilnya ke mulut Agus.

“Hmmm… hmmm…”

“Bagaimana dok?” tanya istri Agus

“Hmmm… sejujurnya saya belum pernah menemui penyakit seperti ini. Mungkin suami anda terlalu banyak pikiran, nanti saya kasih obat penenang, vitamin dan pil placebo2.”

Istri Agus manggut-manggut, sebenarnya ia tidak tahu apa itu pil placebo tapi untuk bertanya ia merasa malu. Maklum, ia tidak ingin keliatan bodoh lagipula ia malu pada papan nama

2 Pil placebo adalah pil yang diberikan kepada pasien dengan alasan psikologis, pil jenis ini tidak mempunyai kandungan bahan-bahan aktif. Pil ini diberikan pada pasien untuk membantu memperkuat keyakinan mereka bahwa mereka akan sembuh.

di depan rumahnya yang dengan mentereng memampang nama berikut gelar S2nya – walaupun sebenarnya gelar S2 itu ia dapatkan dengan thesis hasil upahan.

***
Tiga hari berlalu sejak kunjungan dokter Aldo namun Agus masih dipusingkan oleh

masalah yang sama, sementara jadwal training karyawan baru semakin dekat.
“Aduh… apa yang harus kulakukan?” tanya Agus entah pada siapa sambil berjalan hilir

mudik di ruang tamu rumahnya.

“Sudah, jangan hilir mudik tidak karuan seperti itu,” ujar istri Agus. “Nanti kita cari cara lain,” sambungnya lagi.

Akhirnya beberapa hari berikutnya Agus mencoba berbagai cara untuk mengobati penyakit anehnya; mulai dari mendatangi paranormal, pergi ke tukang pijat, sampai pergi ke pijat plus-plus – tentu saja cara yang terakhir tanpa sepengetahuan istrinya.

Namun tak satu pun membuahkan hasil. Agus yang pada malam itu sudah hampir putus asa memutuskan untuk mendatangi tukang obat pinggir jalan yang biasa mangkal di sekitar terminal.

“Saya mau berobat pak.”

“Saya sudah tutup,” ujar si tukang obat pinggir jalan acuh tak acuh sambil membereskan barang dagangannya.

“Tapi saya terancam kehilangan pekerjaan jika bapak tidak mengobati saya.”

Si tukang obat pinggir jalan terus saja membereskan barang dagangannya sambil sesekali melirik Agus acuh tak acuh.

“Sudah beberapa hari ini saya tidak bisa tersenyum sementara pekerjaan saya adalah trainer yang bertugas melatih para karyawan baru agar bisa tersenyum sesuai standar. Tolong pak, bikin saya bisa tersenyum lagi. Bagaimana saya bisa melatih karyawan baru cara senyum sesuai standar sementara saya sendiri tidak bisa senyum? Saya bukan saya kalau tidak bisa senyum apalagi tidak bisa senyum sesuai standar.”

Si tukang obat pinggir jalan yang baru saja selesai membereskan barang dagangannya memandangi Agus dari atas ke bawah dan tiba-tiba berkata; “Apakah anda itu anda dengan senyum sesuai standar itu?” lalu ia ngeloyor pergi meninggalkan Agus yang melongo mendengar pertanyaan tersebut.

“Sepertinya saya bisa membantu anda,” tiba-tiba seseorang yang entah muncul darimana berjalan ke arah Agus.

“Maksud anda membuat saya bisa senyum lagi?”

“Iya, jangankan senyum yang sesuai standar, senyum yang melebihi standar pun bisa anda miliki.”

“Benarkah? Bagaimana caranya?”

“Ikuti saya.”

Orang yang tidak jelas benar laki-laki atau perempuan itu berjalan menuju ke sudut paling gelap dari terminal tersebut.

“Apakah senyum anda yang sesuai standar itu begitu penting?”

“Iya, sangat penting. Tanpa itu saya bisa kehilangan pekerjaan.”

“Hmmm… hidup ini memang aneh! Tanpa senyum anda bisa kehilangan pekerjaan, sementara orang-orang di atas bus kota yang saling memandang dengan tatapan kosong dan wajah lelah itu kehilangan senyuman karena pekerjaan.” Kemudian seperti bicara pada diri sendiri ia melanjutkan; “Tapi apa peduliku? Apakah aku harus peduli ditengah belantara ketidakpedulian ini?” orang itu terus berjalan sampai akhirnya ia berhenti.

“Kita sudah sampai,” ujarnya sambil membuka sebuah pintu di sebuah bangunan yang sepertinya sudah lama tidak dipakai. Hawa pengap dan bau bacin langsung menyergap.

“Ayo masuk,” ajak orang itu kepada Agus. “Jangan ragu, bukankah anda tidak ingin kehilangan pekerjaan?” sambungnya lagi seolah bisa membaca pikiran Agus yang memang berdiri ragu di ambang pintu.

Agus masuk mengikuti orang tersebut. Sisi lain dibalik pintu itu ternyata menyerupai terowongan yang gelap, lembab, pengap, serta bau bacin yang mungkin berasal dari kencing tikus- tikus yang sejak tadi men-cericit tiada henti. Mereka terus berjalan sampai akhirnya bertemu dengan sebuah pintu. Orang tak dikenal itu menarik gagang pintu dan keluar dari terowongan pengap dan bau bacin itu dengan diikuti oleh Agus.

“Masalah anda akan menemui jalan keluarnya disana,” ujar si orang tak dikenal sambil berjalan kearah sebuah bangunan megah yang berselimutkan cahaya jutaan neon.

Agus mengikuti orang tak dikenal itu berjalan menuju kearah bangunan megah tersebut. Di kiri kanan, depan dan belakangnya orang-orang berjalan sangat cepat seolah-olah tak ada waktu menikmati perjalanan mereka yang entah darimana dan menuju kemana.

“Hati-hati dong!!” semprot Agus pada seseorang yang baru saja menabraknya. Alih-alih minta maaf, orang tersebut terus saja berjalan dengan cepat kearah yang berlawanan dengan arah yang dituju Agus. Agus menggerutu panjang-pendek, namun di tempat dimana semua orang berjalan sangat cepat apakah masih ada ruang dan waktu tersedia bagi basa-basi, tata krama dan tepo seliro3?

Mereka akhirnya sampai di depan bangunan megah tersebut. Diantara tikaman cahaya jutaan neon ia melihat sekelompok anak muda dengan celana robek, jaket penuh studs, dan rambut acak-acakan berjalan sambil menenteng sebuah gitar.

“Kapan orang-orang seperti ini dewasanya?” ia berkata dalam hati. Ingin rasanya ia tersenyum sinis, tapi begitu ingat kalau ia sedang tak bisa senyum langsung ia mengurungkan niatnya.

“Tunggu apa lagi? Ayo masuk,” suara si orang tak dikenal menyentak Agus yang masih asyik dengan pikirannya tentang sekelompok anak muda dengan dandanan urakan tadi.

***

3 “Tempo kehidupan di sebuah metropolitan… membentuk satu proses seleksi alamiah berdasarkan kecepatan… kota tak menyediakan lagi ruang dan waktu bagi basa-basi, tata karma, dan tepo seliro.” Yasraf Amir Piliang, Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan, Matahari, Bandung, 2010.

Seperti yang seolah-olah sudah disepakati oleh seluruh dunia, Agus mengambil trolley di pintu supermarket. Kemudian ia mulai mendorong di antara orang-orang yang mencari makna kehidupan di dalam supermarket tersebut setelah lima hari dalam seminggu mereka hidup di atas kematian mereka sendiri.

Agus terus mendorong melewati orang-orang yang berusaha mendefinisikan kelas sosial mereka diantara gantungan label harga, melewati remaja-remaja yang mencari makna cantik dalam tube-tube produk pemutih, ia juga melewati para lelaki yang membeli jiwa lelaki di dalam kemasan minuman energi.

“Itu solusi masalah anda,” tiba-tiba si orang tak dikenal berkata sambil menunjuk rak-rak yang ramai dikelilingi orang.

“Senyum Manis”
“Senyum Bahagia” “Senyum Pasta Gigi” “Senyum Cemerlang” “Senyum Wakil Rakyat” “Senyum Sesuai Standar” “Senyum Melebihi Standar “Senyum Kemenangan” “Senyum Sinis”

“Senyum Pahit”

Agus membaca satu persatu label nama yang digantung di atas rak-rak tersebut sambil mengerenyitkan dahinya.

“Di sini memang ada supermarket yang menjual senyum,” si orang tak dikenal menjelaskan tanpa diminta. “Di dunia dimana sentuhan yang paling sering dirasakan adalah sentuhan di layar

sentuh, hal-hal seperti senyum memang harus dijual dan bisa dibeli di supermarket-supermarket terdekat agar manusia tidak lupa bagaimana caranya berinteraksi dengan sesamanya.”

“Ini gila,” pikir Agus. “Bagaimana mungkin ada supermarket yang menjual senyum?” Ia benar-benar heran, namun di sisi lain ia merasa gembira karena masalahnya akan segera teratasi.

“Ayo silahkan ambil, saya yang traktir.”

“Iya, terima kasih” jawab Agus yang masih terheran-heran sambil berjalan menuju rak-rak yang memajang senyum-senyum tersebut.

“Eh bu Lina! Lagi borong senyum nih? Tanya seorang ibu muda kepada ibu berambut pendek yang sibuk memilih-milih senyum disamping Agus.

“Ah ngga bu Siska. Ini saya mau beli Senyum Wakil Rakyat untuk dikirim ke kampung. Tetangga saya yang mau jadi caleg nitip. Bu siska sendiri?

“Ini, saya mau beli Senyum Sesuai Standar buat adik saya soalnya dia baru diterima kerja.”

“Ini pasti mimpi, aku pasti sedang bermimpi,” pikir Agus yang mendengar percakapan dua orang ibu muda tersebut sambil mencubit pipi kanannya. Tapi cubitannya terasa sakit, rasa sakit yang seakan-akan mengkonfirmasi bahwa ia tidak sedang bermimpi.

“Ah… masa bodoh, mau mimpi mau kenyataan yang penting masalahku akan segera teratasi!” pikir Agus. Kemudian ia segera memilih senyum apa saja yang mau dibelinya.

Setelah trolleynya penuh dengan berbagai tipe senyum Agus segera berjalan menuju kasir. Ia memperhatikan bahwa kebanyakan orang yang antri membawa senyum dari berbagai tipe dalam trolley mereka masing-masing.

***

Agus keluar dari supermarket tersebut dengan perasaan lega dan bahagia karena ia telah membeli semua senyuman yang ia inginkan, ada Senyum Bahagia, Senyum Kemenangan, Senyum Cemerlang, Senyum Sinis, dan yang paling penting tentu saja Senyum Sesuai Standar yang akan diperagakannya di training karyawan baru nanti. Tak lupa ia juga membeli Senyum Wakil Rakyat, siapa tahu ia akan mencalonkan diri menjadi wakil rakyat – “Tidur waktu sidang pun tetap digaji,

siapa yang tidak mau jadi wakil rakyat,” begitu kata Agus dalam hati ketika ia memasukkan Senyum Wakil Rakyat tersebut ke dalam trolleynya.

Di jalan yang akan membawanya kembali ke terowongan yang tembus ke terminal tempat ia pertama kali bertemu dengan orang tak dikenal yang membawanya ke supermarket yang menjual senyum tadi, Agus kembali melihat anak-anak muda berpenampilan urakan yang ia lihat di depan supermarket tadi. Kali ini mereka sedang asyik bernyanyi sambil diiringi gitar.

“Mereka lagi, kapan orang-orang seperti ini dewasanya?” pikirnya sambil langsung memasang Senyum Sinis yang baru saja ia beli di supermarket. Ia terus berjalan melewati gerombolan anak-anak muda berpenampilan urakan tersebut yang sekarang bernyanyi;

I’m all lost in the supermarket
I can no longer shop happily
I came in here for that special offer A gu
aranteed personality.”4

Pekanbaru

4 Penggalan dari lagu band punk Inggris bernama The Clash yang berjudul I’m Lost in the Supermarket. Lagu ini ada di album mereka yang berjudul London Calling.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here