Dalam beberapa tahun belakang skena berkesenian tumbuh berkembang. Namun dalam perjalanannya sangat disayangkan tidak seiring dengan dukungan dari literasi, baik berbentuk visual bergerak layaknya video ataupun tulisan liputan.

“Ngamar Session” hadir sebagai sebuah wadah literasi dengan melakukan wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan outstanding yang tentunya positif dan juga kritis dengan tempat yang senyaman mungkin, sehingga yang di wawancara merasa sangat nyaman dan tanpa mereka sadari mereka telah di “telanjangi”.

Belakangan ngamar session menghadirkan 2 pelaku seni dalam bidang musik yaitu 17 nowhere to go dan juga Zuhryan. Dalam beberapa pertanyaan tersebut terungkaplah keluh kesah mereka dalam menciptakan karya-karya mereka. Seperti salah satunya Dhea dari 17 nowhere to go bercerita bagaimana dia harus struggle dengan bullying, social anxiety, sehingga menjadikan music sebagai art healing nya. Juga Zuhryan berbagi cerita mengenai masa kuliah hingga lulus dan hanya mendapatkan sertifikat bukannya ijazah seperti yang dia harapkan, mengangkat isu mengenai pelecehan seksual di sekitar kampus sehingga dia hampir saja di D.O dari kampusnya.

Dalam perjalanannya, “Ngamar Session” akan terus belajar dan berkembang sebagai salah satu platform disukusi dan berbagi bagi para penggiat seni di Pekanbaru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here